Sabtu, 7 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brksumbawabarat.orgbrksumbawabarat.org
brksumbawabarat.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Rantau, Wawancara Kerja Pertamamu Jangan Samp...

Anak Rantau, Wawancara Kerja Pertamamu Jangan Sampai Keliru

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan mahasiswa perantau soal wawancara kerja pertama, dijawab tuntas dan santai.

Anak Rantau, Wawancara Kerja Pertamamu Jangan Sampai Keliru

Gue masih inget banget momen itu. Duduk di ruang tunggu kantor yang AC-nya dingin banget, sambil megang CV hasil print di warnet deket kos. Tangan gemeter, bukan karena dingin, tapi karena mikirin pertanyaan yang bakal keluar. Kamu pernah ngalamin hal yang sama?

Kalau iya, kamu nggak sendirian. Hampir tiap minggu gue dapat DM dari mahasiswa perantau yang nanya hal serupa soal wawancara kerja pertama. Kebanyakan dari mereka bukan kurang pintar, tapi cuma bingung harus mulai dari mana. Jadi gue coba rangkum pertanyaan yang paling sering muncul, plus jawaban jujur versi gue.

"Gue nggak punya pengalaman, apa masih bisa diterima?"

Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering masuk. Jawaban singkatnya: bisa, tapi ada catatannya.

Baca juga: Pekerja Lepas: Jawaban Jujur soal Karier & Wawancara Kerja

Perusahaan yang buka lowongan buat fresh graduate biasanya sudah paham kok kalau pelamarnya nggak punya pengalaman kerja formal. Yang mereka cari justru hal lain: kemauan belajar, cara kamu berpikir, dan seberapa cocok kamu dengan tim. Jadi jangan terlalu lama meratapi kosongnya kolom pengalaman di CV.

Yang bisa kamu lakuin adalah menggeser fokus. Alih-alih bilang "saya belum punya pengalaman", coba ceritakan hal lain yang relevan. Ikut kepanitiaan kampus? Jadi bendahara UKM? Bantu jualan online sepupu? Semua itu bisa jadi bahan cerita kalau kamu tahu cara mengemasnya.

Pengalaman nggak selalu soal kerja formal. Kadang soal bagaimana kamu menyelesaikan masalah dengan sumber daya seadanya.

Gue dulu pernah ditanya soal pengalaman, dan gue jawab dengan cerita jadi panitia acara kampus yang harus negosiasi sama vendor dengan budget terbatas. Nggak muluk, tapi interviewer-nya kelihatan tertarik karena ceritanya konkret.

"Pertanyaan yang bikin nge-blank itu apa aja?"

Berdasarkan pengalaman dan cerita teman-teman, ada beberapa pertanyaan yang hampir selalu bikin kandidat perantau panik. Gue rangkum di bawah ini.

Soal ekspektasi gaji

Banyak yang takut nyebut angka karena nggak mau kelihatan mata duitan, atau takut kemahalan. Padahal kalau kamu nggak jawab, perusahaan yang nentuin, dan belum tentu sesuai. Coba riset dulu kisaran gaji untuk posisi serupa di kota kamu. Kalau masih ragu, jawab dengan rentang, bukan angka mati.

Soal "kenapa kamu pindah ke kota ini?"

Ini sering dianggap remeh, padahal interviewer biasanya pakai pertanyaan ini buat ngukur stabilitas kamu. Mahasiswa perantau yang sudah lama tinggal di kota lain punya nilai plus di sini: kamu sudah terbukti bisa mandiri jauh dari keluarga. Ceritakan itu.

Soal rencana lima tahun ke depan

Nggak perlu jawaban muluk soal jadi direktur. Jawaban jujur yang masuk akal justru lebih dihargai. Misalnya kamu mau dalam dua-tiga tahun sudah bisa pegang tanggung jawab lebih besar di bidang yang kamu tekuni. Selesai.

"Kalau ditanya kelemahan, harus jawab apa?"

Ini klasik banget. Banyak artikel nyuruh jawab "saya terlalu perfeksionis", tapi jujur aja, jawaban itu sudah basi dan interviewer juga tahu kamu ngarang.

Menurut gue, cara paling aman adalah sebut satu kelemahan yang nyata, lalu ceritakan apa yang sedang kamu lakuin untuk memperbaikinya. Contoh: kamu merasa masih kurang percaya diri kalau presentasi di depan banyak orang, jadi kamu sengaja ambil peran sebagai juru bicara di organisasi kampus buat latihan. Itu jawaban yang jujur sekaligus menunjukkan kesadaran diri.

Yang penting jangan sebut kelemahan yang menyangkut integritas atau hal fatal buat posisi yang kamu lamar. Bilang aja kamu nggak teliti, sementara posisi yang dilamar itu akuntan. Ya jelas gugur.

"Harus tanya apa ke interviewer di akhir?"

Banyak kandidat bilang "tidak ada" karena takut pertanyaannya kelihatan bodoh. Padahal sesi tanya-jawab di akhir itu kesempatan emas buat ninggalin kesan.

Beberapa pertanyaan yang aman dan terlihat serius:

  • Bagaimana gambaran tugas harian untuk posisi ini dalam tiga bulan pertama?
  • Timnya terdiri dari berapa orang, dan bagaimana cara kerja sama sehari-hari?
  • Apa yang biasanya membedakan karyawan yang berkembang cepat di sini dengan yang biasa saja?

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan kamu sudah membayangkan diri bekerja di sana, bukan cuma datang buat cari tanda tangan kontrak.

Satu hal lagi yang sering gue tekankan ke teman-teman perantau: persiapan logistik itu penting. Kalau wawancaranya offline, cek rute dan waktu tempuh sehari sebelumnya. Jangan sampai gara-gara salah naik angkot atau kehujanan di jalan, kamu datang dengan kemeja basah dan mood kacau. Kelihatan sepele, tapi pengaruhnya besar ke rasa percaya diri kamu di dalam ruangan.

Dan yang terakhir, ingat ini: interviewer juga manusia biasa yang mungkin sama gugupnya, cuma lebih jago nyembunyiin. Kamu nggak perlu jadi versi sempurna dari diri sendiri. Cukup jadi versi yang jujur, siap, dan tahu mau ke mana. Sisanya, biar proses yang jawab.

Kalau kamu lagi nyiapin wawancara pertama dan masih ada yang bikin deg-degan, tulis aja di kolom komentar. Siapa tahu gue atau pembaca lain pernah ngalamin hal yang sama.

Tags: wawancara kerja mahasiswa perantau karier pertama dunia kerja tips interview