Bulan lalu proyek gue kering banget. Bukan karena nggak ada yang nawar, tapi karena gue sengaja nolak beberapa tawaran yang rasanya nggak masuk. Awalnya panik. Duit tabungan mulai tipis, dan tiap buka grup freelancer isinya orang pamer proyek baru. Tapi gue paksa diri buat satu eksperimen kecil: sebulan penuh nggak nerima kerjaan dengan tarif di bawah standar, dan nggak nerima klien yang minta "revisi dulu aja, bayarnya belakangan".
Hasilnya? Bukan langsung gajian gede, tapi ada perubahan yang kerasa banget di cara gue ngobrol sama calon klien. Dan itu yang mau gue ceritain di sini.
Baca juga: Ngeri Ditanya Pengalaman Kerja? Ini Trik Jawabnya buat Fresh Graduate
Nego Tarif Nggak Lagi Deg-degan
Dulu tiap klien nanya "berapa rate-nya?", gue langsung ngecil. Suara gue berubah, jawaban jadi muter-muter, dan ujungnya gue kasih harga yang lebih murah dari yang harusnya. Sebulan ini gue latih satu hal sederhana: sebut angka dulu, baru jelasin.
Contohnya waktu ada calon klien minta desain feed bulanan. Gue bilang, "Untuk paket itu 4,5 juta, sudah termasuk dua kali revisi." Nggak ada embel-embel "kalau kemahalan bisa nego kok". Ternyata dia jawab, "Oke, saya transfer DP dulu ya." Gue cuma bisa bengong di depan laptop.
Yang gue sadar, selama ini gue sering memurahkan diri sendiri sebelum klien sempat nawar. Padahal belum tentu mereka mau nawar. Kadang kita yang terlalu takut ditolak.
Kenapa Sebulan Tanpa Proyek Justru Bikin Berani?
Kedengarannya aneh, tapi kehabisan proyek sebulan bikin gue sadar satu hal: takut kehilangan klien itu wajar, tapi takut kehilangan harga diri sebagai pekerja itu lebih mahal. Waktu nggak ada yang bisa hilang lagi, gue jadi lebih santai ngomong. Dan justru sikap santai itu yang bikin klien percaya.
Gue juga mulai pakai template singkat buat jawab pertanyaan tarif. Isinya cuma tiga baris: paket apa, harganya berapa, apa saja yang didapat. Nggak pakai basa-basi panjang. Klien yang serius langsung balas, yang cuma cari yang paling murah biasanya hilang sendiri. Dan itu nggak apa-apa.
Wawancara Sama Klien Berasa Kayak Ngobrol Biasa
Freelancer kan juga sering "wawancara", cuma namanya beda: sesi discovery call, meeting awal, atau obrolan singkat sebelum deal. Dulu gue selalu datang ke sesi itu dengan mental orang yang lagi ngelamar kerja. Nunggu dinilai, takut salah jawab, dan terlalu banyak bilang "iya bisa" padahal belum tentu.
Setelah sebulan latihan bilang "nggak" ke proyek yang nggak cocok, gue jadi lebih berani nanya balik. "Deadline-nya realistis nggak?", "Proses approval-nya lewat siapa?", "Kalau revisi di luar paket, dihitung gimana?". Awalnya gue takut pertanyaan kayak gitu bikin klien kabur. Ternyata nggak. Klien yang profesional justru senang karena semuanya jelas dari awal.
Ada satu momen yang bikin gue nggak bisa lupa. Seorang calon klien bilang, "Wah, baru kali ini ada freelancer yang nanya soal alur approval dulu sebelum harga." Dua hari kemudian dia kirim kontrak. Rasanya kayak dapat nilai bagus di ujian yang nggak pernah gue pelajari.
Nggak Semua Tawaran Harus Diambil
Ini bagian yang paling berat tapi paling ngubah cara kerja gue. Sebelum eksperimen ini, gue hampir selalu bilang iya ke semua tawaran. Takut rezeki lewat katanya. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: proyek yang nggak cocok bikin gue capek, hasilnya biasa aja, dan kliennya nggak balik lagi.
Sebulan ini gue bikin aturan sendiri. Kalau klien minta tarif di bawah 60 persen dari standar, gue tolak dengan sopan. Kalau brief-nya nggak jelas dan dia nggak mau diskusi, gue skip. Kalau dia minta hasil dalam 24 jam untuk kerjaan yang butuh seminggu, gue kasih tahu itu nggak mungkin.
Yang gue pelajari: menolak kerjaan yang salah itu bukan kehilangan, tapi cara menjaga supaya kerjaan yang benar nggak ikut rusak.
Ada konsekuensinya. Pemasukan bulan itu memang lebih kecil dari biasanya. Tapi gue jadi punya waktu buat ngerapiin portofolio, belajar hal baru, dan yang paling penting, tidur cukup. Waktu ada proyek masuk di minggu ketiga, gue ngerjain dengan kepala jauh lebih jernih.
Yang Berubah Setelah Sebulan
Kalau dirangkum, ada beberapa perubahan yang kerasa banget buat gue sebagai pekerja lepas:
- Lebih cepat nyebut angka. Nggak muter-muter lagi kalau ditanya tarif.
- Lebih berani nanya balik. Klien jadi tahu gue serius, bukan cuma cari kerjaan.
- Lebih gampang bilang nggak. Dan ternyata dunia nggak runtuh.
- Lebih tenang. Karena tahu proyek yang masuk sudah lewat filter sendiri.
Yang nggak berubah: rasa panik waktu saldo rekening menipis. Itu tetap ada, dan gue nggak mau pura-pura bilang sebulan eksperimen ini bikin hidup gue adem ayem. Tapi paniknya sekarang beda. Dulu panik karena nggak ada kerjaan, sekarang paniknya lebih ke "kapan proyek yang bener dateng". Itu dua hal yang jauh berbeda.
Buat kamu yang juga kerja lepas, gue nggak nyuruh ikut-ikutan nolak kerjaan sebulan penuh. Itu keputusan besar dan nggak semua orang punya tabungan buat nahan. Tapi coba deh mulai dari hal kecil: minggu ini, coba sebut tarif kamu tanpa kata "bisa nego". Atau coba tanya satu pertanyaan balik ke calon klien sebelum bilang iya.
Perubahan besar biasanya nggak datang dari langkah besar. Kadang cuma dari satu kalimat yang selama ini kita tahan buat diucapkan.